Senin, 27 April 2009

Sistematika Pembelajaran Yang Benar

Oleh : Muhammad Farid Wajdi *)

MENGAPA ada orang yang memiliki tingkat pendidikan yang sama namun memiliki kematangan dasar pengetahuan yang berbeda. Bahkan terkadang kita menemukan pengalaman-lah (pengalaman organisasi atau pengalaman kerja,red) yang lebih membentuk tradisi ilmiah kita dibanding formalitas level pendidikan.
Para pakar pendidikan mengatakan bahwa justru kedewasaan itu lebih banyak dibentuk oleh pengalaman dibanding formalistas pendidikan, mengapa demikian ? Salah satu sebabnya karena sudah terbukti bahwa kesuksesan hidup justru lebih banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosional dibanding kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual bisa didapatkan pada setiap level pendidikan namun kecerdasan emosional (Emotional Quotient) justru ditempa oleh pengalaman sosial berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat.
Tingkat kedewasaan berpikir dan bersikap itu juga dapat dilihat pada sejauh mana kita menanggapi suatu wacana yang berkembang di masyarakat, dalam hal ini ‘ketepatan dalam berpikir’ dan kedewasaan dalam menjiwai suatu sikap sosial masyarakat mempengaruhi diri kita dalam menentukan sukses hidup. Ada begitu banyak orang yang ‘banyak main’ dan terburu – buru bahkan cenderung tanpa dipikir langsung menanggapi suatu wacana yang berkembang di masyarakat kita. Padahal, kesemua hal yang kita hadapi (masalah kebutuhan hidup, kemasyarakatan, pendidikan, organisasi, pekerjaan, keagamaan dan lain sebagainya) memerlukan sistematika pembelajaran hidup yang memadai.
Tidak semua informasi yang kita terima mesti dikomentari atau kita tidak memerlukan argumentasi prematur untuk suatu informasi yang belum kita uji kebenaran ilmiahnya. Orang yang ‘dewasa’ dalam hal kematangan berpikir selalu mengingatkan dirinya akan pesan orang bijak bahwa, “Semua Ucapan harus kita ketahui tapi tidak semua yang kita ketahui mesti diucapkan”. Kalau nasehat ini kita pegang niscaya kita akan mengarahkan diri kita untuk selalu bersikap rendah hati, selalu mengalah terhadap perbedaan yang tidak terlalu prinsipil serta tidak memaksakan sikap egoistis meski kita meyakini sesuatu itu adalah kebenaran. Tapi, ingatlah benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain, dalam hal ini terkecuali kebenaran Allah yang menurut agama merupakan sesuatu hal yang tidak perlu diperdebatkan. Justru kalau diperdebatkan, sama halnya kita meninggikan akal makhluk dibandingkan akal ilahiah, sang Maha Mengetahui.
Tradisi ilmiah selanjutnya dibentuk oleh sistematika pembelajaran yang benar. Waktu kita tidak memadai untuk menguasai banyak ilmu, waktu kita tidak cukup untuk membaca semua buku. Tapi kita tetap dapat menguasai banyak ilmu melalui sistematika pembelajaran yang benar. Tapi untuk itu, kita memerlukan banyak guru dan ulama yang mengetahui struktur dari setiap ilmu dan cara mempelajarinya.
Tradisi ilmiah yang kokoh merupakan salah satu faktor yang dapat merubah keragaman menjadi sumber produktifitas kolektif kita. Hal ini ditandai oleh banyak ciri, diantaranya :
(1) Berbicara dan Bekerja berdasarkan Ilmu Pengetahuan, bukan atas dasar emosionalitas dan ego mengunggulkan diri diatas yang lain ;
(2) Tidak bersikap a priori dan tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik dan akurat;
(3) Selalu membandingkan dan menguji pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan;
(4) Mendengar lebih banyak daripada berbicara;
(5) Gemar membaca dan secara khusus menyediakan waktu itu;
(6) Lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian;
(7) Selalu mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, obyektif dan proporsional;
(8) Gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana ide-ide tapi tidak suka berdebat kusir;
(9) Berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kemenangan;
(10) Berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional serta meledak-ledak;
(11) Berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur;
(12) Tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin setiap saat belajar dan belajar terus;
(13) Menyenangi hal-hal baru dan menikmati tantangan serta perubahan;
(14) Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan;
(15) Lapang dada dan toleran dalam perbedaan;
(16) Memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan orang lain dan senantiasa menguji kebenarannya;
(17) Selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara produktif.

Ke tujuh ciri diatas menurut HM Anis Matta, Sekjen Partai keadilan Sejahtera (HM Anis Matta : 2002) merupakan nuangsa yang kuat tentang keyakinan, kepastian, fleksibilitas, dinamika, pertumbuhan, kemerdekaan, kebebasan dan keakraban. Mereka yang hidup dalam suatu komunitas dengan tradisi ilmiah yang kokoh merasakan kemandirian, aktualisasi diri, kebebasan, kemerdekaan, tapi juga menikmati perbedaan, tantangan, dan segala hal yang baru. Mereka juga betah menelusuri detil dan kerumitan, sabar dalam ketidak-pastian, dingin dalam kegaduhan, tapi sangat percaya diri dalam mengambil keputusan. (***)

Muhammad Farid Wajdi,
Pernah Mengajar di SLTP Islam Makassar (1996), Sekolah Perawat Kesehatan (SPRG Depkes) Makassar (1997) SMU Ponpes IMMIM Puteri Pangkep (2002/2003).
Artikel ini pernah dimuat di koran SKU Himbauan, Makassar (2004).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar