Senin, 27 April 2009

Berkebudayaan Malu (Shame Culture)

KEBERHASILAN Negara Korea Selatan merupakan satu bukti nyata bahwa rasa “malu dan dendam” dapat dijadikan motivasi kemajuan. Pemerintah dan Masyarakat Korsel berhasil mengeksplorasi rasa malu dan dendam menjadi sebuah motivasi untuk mengungguli negara dan bangsa lain, termasuk negara yang selama puluhan tahun pernah menjajahnya. Tulisan ini pada akhirnya ingin mempertanyakan, “Mengapa rasa “siri” dan “pacce” tidak bisa kita jadikan motivasi, spirit atau energi untuk melakukan kerja keras, perubahan positif, percepatan pembangunan dan lompatan kemajuan ? Padahal kita semua tahu, “siri na pacce” merupakan bagian dari kebudayaan kita.
Korea merupakan negara yang pernah dijajah Bangsa Jepang sejak akhir Abad XVI. Selama enam tahun tentara Jepang dengan dipimpin Hideyoshi Toyotomi, untuk pertama kalinya menjajah Korea, yang ketika itu masih berupa Kerajaan Joseon Lama. Namun, penjajahan selama enam tahun itu belumlah menabur dendam bagi Korea, karena ketika itu Korea praktis belum terbentuk. Penjajahan Jepang yang menyakitkan bagi Korea adalah penjajahan yang terbentang antara tahun 1910 – 1945. Ketika itu, Jepang kembali ingin menunjukkan dominasinya dalam hal aneksasi, sekaligus eksploitasi ekonomi.
Bangsa Korea harus tunduk pada Kaisar Jepang. Menggunakan bahasa Korea dalam kehidupan sehari-hari, termasuk merupakan larangan keras. Sekolah-sekolah diwajibkan menggunakan Bahasa Jepang, dan orang Korea harus mengadopsi nama Jepang. Invasi Jepang selama 35 tahun di Semenanjung Korea itu mengakibatkan kehancuran dan porak poranda yang luar biasa, di segenap aspek kehidupan Bangsa Korea. Standar hidup Bangsa Korea menurun drastis. Tidak ada angka resmi berapa ribu korban jiwa yang jatuh dipihak Korea, tetapi disebut-sebut selama 35 tahun penjajahan itu, lebih dari 100.000 perempuan Korea dipaksa melayani nafsu seksual tentara Jepang.
Selain kehancuran sosial, ekonomi dan fisik, invasi Jepang itu juga mengakibatkan perebutan kepemimpinan antar Bangsa Korea sendiri setelah hengkangnya Jepang dari “Daratan Pagi yang Tenang” itu. Koreapun terbagi menjadi dua, Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel). Selama tiga tahun, antara tahun 1950 – 1953, Korut dan Korsel terlibat perang saudara memperebutkan kepemimpinan. Barulah selepas tahun 1953, Korsel bisa mulai membenahi puing – puing perekonomian, pendidikan, sosial serta aspek-aspek lainnya, serta bangkit sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan.
Berlalunya tahun – tahun itu, tidak sedikitpun mengikis dendam Korea Selatan terhadap Jepang, walaupun secara diplomatis kedua negara mencanangkan berbagai perjanjian dan kerjasama. Dendam yang besar itu menjadi energi luar biasa bagi Korsel untuk menyaingi Jepang yang pernah menjajah dan mendzaliminya. Kini setelah lebih dari setengah abad merdeka, Korsel mulai memetik buah dari jerih payahnya membangun kembali bangsa yang pernah diporak-porandakan penjajah. Hasil paling nyata dapat dilihat pada industri manufaktur yang berbasis teknologi.
Pada dekade tahun 1960 dan 1970, Korsel hanya dapat meniru produk-produk Jepang. Pada tahun 1972 Pemerintah Korsel melancarkan gerakan “Sae Maul Undong” sebagai upaya menggenjot percepatan pembangunan dan kemajuan Korea. Gerakan mobilitas nilai budaya untuk kemajuan yang disebut “Sae Maul Undong” (sae = desa, maul = baru, Undong = gerakan) yang dilancarkan para pemimpin yang mengutamakan ‘learning by doing’, yaitu langsung bekerja ditengah-tengah rakyat dan memberi contoh hidup sederhana dan disiplin. Pemerintahnya menyadari bahwa mereka tidak mempunyai kekayaan alam yang bisa diandalkan, penduduknya padat, wilayahnya bergunung – gunung, musim dingin yang panjang, serta cuaca buruk.
Pembangunannya berhasilnya merubah desa menjadi kota, berhasil merubah kegiatan pertanian yang seadanya menjadi raksasa industri yang patut diperhitungkan. Hanya dalam waktu satu dekade, Korsel sudah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Revolusi mental dan sikap untuk maju itu telah menunjukkan bukti nyata menjadikan Korsel sebagai salah satu raksasa negara industri di Asia. Dimulai pada era tahun 1980-an, Korsel mulai memfokuskan diri pada penelitian dan pengembangan (research and development). Pada tahun 1982 dicapailah hasil gemilang. Dalam waktu selama 10 tahun pendapatan perkapita rakyat melejit dari US $ 82 naik menjadi US $ 2.000,- yang 4 tahun kemudian mencapai lebih dari US $ 5.000,- (T.Hutagalung Simanungkalit, 1983). Bisa dibayangkan, berapa besar pendapatan perkapita rakyat Korsel saat ini. Diliputi dendam besar yang memanivestasi menjadi motivasi, masyarakat Korsel rata-rata menjalani 10 jam kerja setiap hari kerja, dari pukul 8.00 hingga pukul 18.00. Selanjutnya, mulai era tahun 1990-an Korsel mulai menjadi ancaman serius bagi industri Jepang.
Pesatnya kemajuan industri Korea tidak lepas dari sikap mental masyarakat Korsel dalam bekerja yang mengacu kepada tiga tujuan. Tujuan pertama, mereka bekerja untuk bangsa dan negara. Tujuan kedua, mereka bekerja untuk perusahaan yang menggaji mereka. Tujuan ketiga, setelah tujuan pertama dan kedua terpenuhi, barulah mereka bekerja untuk diri mereka sendiri. Mereka merasa malu jika sebagai warga negara belum memberikan sumbangsih dan kontribusi positif bagi kemajuan negaranya. Sebaliknya kita di Indonesia, justru yang menamakan dirinya abdi negara dan abdi masyarakat, yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi dengan praktek KKN yang merajalela. Masyarakat yang berharap dapat diperjuangkan oleh Anggota DPR yang telah dipilihnya, malahan “sibuk dengan gayanya sendiri”.
Nasionalisme orang Korea memang amat tinggi. Semua orang di Negara “Daratan Pagi Yang Tenang” itu memakai produk dalam negeri, dari makanan, sepatu, produk-produk elektronik, hingga produk-produk otomotif. Tidak ada paksaan dari pemerintah, tetapi kalau tidak memakai produk Korea, mereka akan malu sendiri. Restoran Mc Donalds terseok-seok bersaing dengan restoran lokal, Lotteria. Empat pemuda tampan asal Taiwan yang tergabung dalam kelompok F4, sama sekali tidak dikenal disana. Yang nama dan gambarnya ada dimana-mana adalah artis remaja Wun Bin. Di Indonesia, justru menjadi bangga jika sudah memakai produk-produk luar negeri. Remaja-remaja kita justru merasa hebat jika sudah dapat menyanyikan lagu-lagu barat dan setiap saat bisa gonta-ganti HP (buatan Jepang dan Korea). Jangan heran, karena perilaku itu memang dicontohkan oleh para pemimpin dan wakil rakyat di negeri ini.
Di rumah – rumah orang Korea tidak ada produk elektronik bermerek Sony, Toshiba, Elektrolux, ataupun Philips. Yang ada hanya dua merek, yakni LG dan Samsung. Di jalan-jalan dan subway, tidak ada satupun telepon genggam Nokia yang menggantung di dada anak-anak muda yang doyan menguyah permen karet itu, melainkan berbagai merek lokal. Dari 100 mobil yang anda jumpai di jalan-jalan, belum tentu ada satu mobil merk Toyota atau Honda, atau mobil-mobil Erofah. Yang akan anda lihat, dari bus sampai mobil sport dan sedan mewah, hanyalah melulu merk KIA, Hyundai, Daewoo dan Ssangyong. (Laporan Kompas).
Korea sangat dendam pada Jepang, dan dendam kepada Jepang itulah yang juga menjadi pemicu semangat untuk bisa menyaingi dan melebihi Jepang dalam segala hal. Dilandasi kesadaran tinggi dulunya tidak memiliki produk unggulan berorientasi ekspor, dipicu pula oleh dendam terhadap Jepang yang harus diakui telah mendominasi Asia dalam hal ekonomi dan industri, Korsel bergerak amat dinamis dengan semboyannya “Dynamic Korea”. Bidang industri dianggap sebagai indikator utama keberhasilan Korea menyaingi Jepang. Masyarakat Korsel menyadari, tidak semua industri negara tersebut unggul atas Negara Jepang. Namun, beberapa raksasa industri Korsel sudah membuktikan hal itu.
Korselpun mampu mempermalukan Jepang dalam bidang Olahraga. Sejak tahun 1986, Pada Asian Games X di Seoul hingga saat ini, Korsel sudah berhasil membungkam Jepang. Sejak Asian Games X hingga Asian Games XIII Bangkok 1998, Korsel langganan menempati urutan kedua dalam perolehan medali keseluruhan, sedangkan Jepang selalu berada di urutan ketiga. Sebelumnya, dari Asian Games I New Delhi 1951 sampai Asian Games VIII Bangkok 1978 Jepang selalu menempati urutan teratas dalam perolehan medali. Selanjutnya, mulai Asian Games IX New Delhi 1982 hingga saat ini posisi juara umum diambil oleh China, yang juga punya dendam sejarah berdarah terhadap Jepang. Pada Asian Games IX itu Jepang masih berada di urutan kedua, sebelum tergusur oleh Korsel sejak Asian Games X Seoul 1986 hingga saat ini. (Kompas).
***
Ratusan ribu kilometer di barat daya Semenanjung Korea ada sebuah Negara yang 350 tahun dijajah oleh Belanda dan tiga setengah tahun dijajah oleh Jepang. Negara tersebut mengalami kerusakan akibat penjajahan yang tidak kalah hebat dengan Korea, dan merdeka dua hari saja setelah Korea merdeka. Namun terhadap Negara tersebut, Indonesia tercinta kita ini, mengeksplorasi rasa malu dan dendam menjadi motivasi adalah hal yang amat futuristis.
Malu dalam terminologi Bugis Makassar berarti siri’. Dalam ukuran nilai, siri’ banyak dipahami sebagai “kehormatan atau harga diri”. “Appaenteng siri’ dapat diartikan menegakkan harga diri. Andai saja, masyarakat dan pemerintah dapat mengeksplorasi rasa malu (menegakkan kehormatan dan harga diri) menjadi sebuah tantangan sekaligus peluang untuk mengejar kemajuan sebagaimana yang telah dicapai oleh negara dan bangsa lain, tak mustahil Indonesia bisa menjadi lebih maju dibandingkan Korsel. Hanya orang yang tidak punya rasa malu, tidak punya harga diri yang dapat melakukan korupsi. Sayangnya, Rezim berganti rezim tidak pernah membawa perubahan kemapanan sosial dan kemandirian ekonomi. Salah satu sebabnya mungkin karena pejabat pemerintahnya terlalu doyan korup dan wakil rakyatnya di parlemen doyan berantem sendiri.
Rasa nasionalisme kita, nanti bangkit kalau wilayah negara diusik dan akan direbut, baru bersorak-sorai menyatakan perang dan ganyang. Sementara, yang terjadi sebenarnya setiap hari kita diserang melalui serbuan kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi, perang pemikiran, sekularisme pendidikan, budaya “westlife” dan industri media, hiburan, seni dan mode (fashion). Masyarakat dan Pemerintah Indonesia seperti lupa bercermin dari Sejarah dan melupakan nilai-nilai luhur budayanya. Kalau Siri’ merupakan taruhan harga diri, maka harga diri tersebut harus diangkat melalui kerja keras, berprestasi, berjiwa pelopor, dan senantiasa berorientasi keberhasilan. Harga diri terangkat atas dukungan rasa Pesse (Bugis) atau Pacce (Makassar), yaitu solidaritas terhadap orang lain sebagai partisipasi sosial. (kepedulian sosial/kesetiakawanan sosial). Sayangnya, rakyat dan pemerintah Indonesia hanya bisa melaksanakannya hanya sebatas jargon dan slogan. Mari membenahi diri untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Kalau kita tidak bisa menjadi lebih baik dibandingkan hari kemarin, maka tidak hanya bisa menjadi “malu”, tapi bisa menjadi malu-maluin. Tabe’. Mariki di ’ .

Sumber :
Makkulau, M. Farid W. 2005. Berkebudayaan Malu (Shame Culture). Surat Kabar Umum (SKU) Pangkep Post, Edisi Agustus 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar